Forum Komunikasi Direktur Kepatuham Perbankan (FKDKP) kembali  menyelenggarakan webinar dengan tema: “Peluang, Harapan dan Tantangan Perekonomian Nasional”, di Jakarta,  2023.

Bertindak sebagai Keynote Speaker Bapak Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Webinar ini juga menampilkan narasumber: Direktur Utama Bank BRI Bapak Sunarso, dan Chief Economist Bank Mandiri, Bapak Andry Asmoro. Sedangkan moderator Ibu Houda Muljanti, Anggota Bidang Pelatihan FKDKP.

 

Acara dibuka oleh Ketua Umum FKDKP, Fransiska Oei, yang juga Direktur Kepatuhan CIMB Niaga.

Beliau menyampaikan bahwa topik webinar kali ini agak berbeda dibandingkan dengan webinar-webinar sebelumnya yang lebih banyak membahas mengenai berbagai kebijakan dan implementasinya. Webinar kali ini mengangkat tema “Peluang, Harapan dan Tantangan Perekonomian Nasional.”

Dipilihnya tema ini mengingat para anggota FKDKP merupakan Direktur Kepatuhan Perbankan beserta jajarannya, dengan tugas utama untuk memastikan kepatuhan bank atas berbagai peraturan yang ada. Untuk mendukung tugas tersebut dirasakan perlu  untuk mengetahui risiko dan tantangan yang dihadapi oleh perbankan sekaligus juga  melihat berbagai peluang yang ada.

Menurut beliau, di tahun-tahun mendatang  kondisi perekonomian global menghadapi tantangan yang sulit antara lain sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina, situasi perang Israel-Palestina, serta kondisi perekonomian di China, USA, dan negara-negara Eropa. Belum lagi  musim kemarau berkepanjangan, yang semua itu menjadi  tantangan bagi perbankan. Namun dengan kondisi permodalan yang kuat dan profil risiko yang terjaga, perbankan nasional siap menghadapi tantangan yang ada.

Karena itu, lanjut beliau, pandangan OJK dan para narasumber sangat berguna bagi para peserta webinar dan anggta FKDKP pada umumnya.

 

Keynote Speaker disampaikan oleh Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Beliau menjelaskan megenai kondisi perekonomian global dan juga kondisi ekonomi nasional, serta pengaruhnya terhadap perbankan  ke depan. Menurut Dian, situasi ekonomi global sekarang masih cukup volatile. Ada beberapa kondisi termasuk pasar keuangan dan pasar saham global, masih diliputi oleh ketidakpastian yang cukup tinggi dan sangat dinamis, antara lain  dipengaruhi oleh kebijakan beberapa bank sentral serta  permasalahan yang dihadapi beberapa bank besar di AS dan  Eropa yang masih belum settle  secara menyeluruh.

Perang Rusia-Ukraina yang belum jelas kapan akan berakhir, juga sangat berpengaruh pada perekonomian global, ditambah lagi dengan  persoalan antara Palestina dan Israel. Sementara China yang sangat berpengaruh dalam perekonomian dunia juga masih mengalami perlambatan, dimana  perdagangannya  masih terkontraksi.

Semua permasalahan itu cukup membayangi perekonomian global yang akan berdampak pada perekonomian nasional, ditambah berbagai kondisi domestik terkait Pemilu, Pilkada, dll.

Dengan melihat perkembangan secara global diperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada  tahun 2024 akan turun pada titik terendah, yang menurut OECD akan melambat  dari 2,9% menjadi 2,7%. Terutama karena dipengaruhi oleh tingginya tingkat suku bunga dan lambatnya pemulihan ekonomi China.

Khusus di emerging market Asia, untuk  tahun 2024 di proyeksi akan tumbuh  sekitar 4,8% (prediksi ADB), sementara ekonomi China diprediksi akan turun seiring melambatnya permintaan domestik dan tekanan di sektor property.

Sementara ekonomi Indonesia justru naik  meskipun perlu diwaspadai, terutama implikasinya ke sektor perbankan. Sementara itu,  sisi inflasi di tahun 2023 diperkirakan   melambat, meskipun tetap di atas target bank sentral. Di kawasan Asia, tekanan inflasi relatif moderat karena umumnya merupakan penghasil komoditas, sedangkan untuk inflasi negara-negara G20 diperkitarakan turun dari  6% (2023) menjadi 4,8% (2024).

Ke depan,  perlu dicermati kemungkinan tingkat inflasi yang masih tinggi dibarengi  tingkat suku bunga dan tekanan fiskal  di beberapa negara, serta dampak lanjutan dari krisis sektor properti di China yang dapat menular ke negara-negara sekitar.

Dalam penjelasannya, beliau juga menguraikan mengenai perkembangan ekonomi domestik yang  mencatat pertumbuhan cukup tinggi pada triwulan 2/2023 yaitu sebesar 5,17%. Meskipun inflasi di bulan Agustus 2003 sedikit meningkat menjadi 3,27% (yoy) namun tetap sejalan dengan ekspektasi pasar 3,3%. Kemudian inflasi harga konsumen  tercatat 2,42% (yoy), sementara inflasi inti  2,18% (yoy).

Hasil survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat masih cukup optimis bahwa kondisi ekonomi akan tetap meningkat yang terindikasi dari indeks keyakinan konsumen (IKK) pada bulan Agustus sebesar 125,2. Sementara itu, neraca perdagangan kita pada bulan Agustus 2023 mencatatkan surplus  3,12 miliar dolar, meningkat dibandingkan  bulan sebelumnya. Pertumbuhan ekspor dan impor masih terkontraksi cukup dalam dimana nilai ekspor secara tahunan di Agustus 2023 sebesar 22 miliar dolar atau mengalami kontraksi sebesar 21,21% (yoy). Secara umum posisi Indonesia masih relatif baik, defisit transaksi berjalan berada pada level yang rendah. Selain itu, defisit anggaran juga cenderung kecil, tingkat inflasi juga relatif rendah.

 

Pembicara pertama yaitu,  Direktur Utama Bank BRI, Bp. Sunarso. Beliau menjelaskan mengenai strategi perbankan dalam menghadapi kondisi ekonomi global, yang diawali dengan pemaparan mengenai situasi ekonomi dan market di tahun 2023.           

Pertama, terjadi perlambatan perdagangan China yang mengalami  kontraksi seiring melemahnya ekonomi China dan dunia. Melemahnya ekonomi China dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk di AS dan Eropa.

Kedua, kondisi perekonomian AS yang diperkirakan melambat. Tren konsumsi diprediksi terus melemah. Pasar tenaga kerja juga semakin tertekan. FRR tetap tinggi di tahun 2023 karena masih tingginya inflasi. Dampaknya dirasakan perbankan AS yang berada dalam tekanan dan makin berisiko.

Ketiga, kondisi sektor riil dimana perlambatan ekonomi China akan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Setiap penurunan tingkat pertumbuhan  ekonomi China sebesar 1% akan mendorong penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,14%. Inflasi domestik sedikit meningkat didorong oleh kenaikan harga beras karena pelarangan ekspor beras India  sebagai dampak kemarau panjang akibat el-nino. Dampak el-nino ini diperkirakan dapat menyebabkan kenaikan inflasi Indonesia  sebesar 0,25%.

            Keempat, kondisi pasar finansial dan perbankan domestik, dimana arus modal asing keluar di pasar finansial Indonesia pada Agustus 23 akibat sentimen negatif perekonomian global dan meningkatnya volatilitas pasar finansial. Rupiah terdampak sentimen risk-off global, namun masih manageable. Likuiditas perbankan semakin ketat, walaupun tidak tercermin dari LDR-nya. Ruang fiskal masih leluasa untuk melakukan kebijakan fiskal ekspansif di semester II/2023.

Dalam situasi seperti ini, apakah masih ada ruang bisnis baru bagi perbankan? Sesungguhnya potensi pasar kredit dari semua segmen masih sangat besar. Dan ini tercermin dari rasio total kredit  terhadap produk domestik bruto yang masih rendah dibandingkan feers. Demikian juga rasio kredit UMKM terhadap PDB juga  masih rendah. Baru 7,2% share kredit UMKM terhadap PDB, dan 30,6% rasio total kredit terhadap  PDB. Karena itu, masih cukup ruang untuk meningkatkan kredit.

Potensi bisnis perbankan masih sangat besar meski belum didukung oleh inklusi keuangan. Inklusi keuangan berdasarkan kepemilikan rekening hanya 67,3%, penggunaan produk atau layanan (tidak termasuk BPJS) baru 70%, sedangkan  penggunaan produk atau   layanan termasuk BPJS  adalah 84%.

Masih ada 45 juta usaha mikro yang butuh tambahan pendanaan, dimana baru 15 juta usaha mikro yang sudah berhubungan dengan lembaga keuangan formal, dan 18 juta usaha mikro yang belum tersentuh pendanaan, yang ini merupakan potensi bisnis perbankan ke depan.

Pertumbuhan kredit perbankan dalam trend melambat sejalan dengan melambatnya kondisi ekonomi domestik, sementara undisbursed loan mengalami peningkatan.

Dalam menghadapi kenaikan inflasi dan suku bunga serta perlambatan ekonomi, maka strategi yang bisa ditempuh antara lain:

1.     Jika ekonomi pulih tetapi inflasi tetap naik dan kualitas pinjaman memburuk, maka langkah yang bisa dilakukan : pemantauan kualitas pinjaman yang intensif; mempertahankan coverage ratio yang tinggi; tumbuh secara selektif, enhancement credit risk model, loan portfolio guideline (LPG) yang diatur moderat; optimalisasi write-offs untuk recovery rate yang lebih tinggi.

2.     Jika ekonomi tetap stagnan, inflasi naik, dan kualitas pinjaman memburuk, maka langkah yang dilakukan : tumbuh terbatas dengan pengaturan LPG yang sangat ketat; mempertahankan coverage ratio yang tinggi; pemantauan kualitas pinjaman yang intensif, simulasi dan stress-test secara berkesinambungan.

3.     Jika ekonomi tetap stagnan, inflasi terkendali, dan kualitas pinjaman membaik, maka lagkahnya adalah : tumbuh selektif dengan LPG yang diatur moderat; mempertahankan coverage ratio yang tinggi; pemantauan kualitas pinjaman yang intensif, simulsi dan stress-test secara berkesinambungan.

4.     Jika ekonomi mulai pulih, inflasi terkendali, dan kualitas pinjaman membaik, maka langkahnya adalah : LPG yang lebih mengendur sebagai pedoman untuk strategi pertumbuhan; menurunkan coverage ratio, enhance risk-based pricing model untuk meningkatkan daya saing produk; serta optimalisasi write-offs untuk recovery rate yang lebih tinggi.

 

Beliau juga menyampaikan harapan kepada OJK sebagai regulator, antara lain: 1) kebijakan yang proaktif, yang mampu memperkokoh industri keuangan terhadap berbagai volatilitas yang berdampak pada risiko; 2) memastikan kompetensi perbankan nasional dengan senantiasa  memajukan industri keuangan di Indonesia sehingga mampu bersaing dengan negara lain; 3) supervisory, dengan terus memperkuat fungsi sebagai pengawas industri jasa keuangan yang terpercaya; 4) supportive, meningkatkan dukungan kepada industri jasa keuangan di tengah fase pemulihan ekonomi pasca pandemi serta ketidakpastian ekonomi dunia.

  

Pembicara kedua yaitu Chief Economist Bank Mandiri, Bp. Andry Asmoro.

Beliau menjelaskan mengenai tantangan di 2023-2024 terkait situasi perekonomian global dan domestik saat ini. Menurut beliau, kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.

Pertama, bagaimana respon kebijakan dari suku bunga acuan  AS terutama yang memang mendorong penguatan nilai tukar dolar AS terutama terhadap mata uang utama di dunia. Hal ini tidak lepas dari bagaimana Bank Sentral AS berusaha menurunkan  inflasi. Angka inflasi perlu diturukan karena akan menggerus  daya beli masyarakat AS.

Sejak tahun 2022, tingkat suku bunga di AS cukup tinggi yang sebelumnya suku bunga acuan hanya 0,25%. Pada  jangka menengah-panjang, suku bunga acuan akan kembali normal  pada kisaran 2,5%.

AS sebenarnya masih relatif kuat. Prediksi IMF, tahun ini AS tumbuh di kisaran 1,5-1,8%, tahun depan melandai tapi masih dikisaran 1%. Kalau AS masih mengalami pertumbuhan, masih ada permintaan yang bisa mendorong inflasi. Karena inflasinya sulit turun, The Fed tidak segera menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Artinya, suku bunga acuan akan lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih  panjang atau higher for longer.

Kedua, bagaimana  ekonomi China yang mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi China dipredisikan hanya akan berkisar sekitar 3-4% pada lima tahun ke depan. Untuk jangka menengah-panjang diperkirakan akan kembali melambat.

Di era sebelum pandemi, di tahun 2011-2012, perekonomian China mampu tumbuh di atas 8% bahkan mendekati double digit. Namun saat ini, pertumbuhan 4-5% sudah merupakan  keistimewaan. Dari angka inflasi juga menggambarkan sisi permintaan yang mengendur, belum lagi kondisi sektor properti yang mengalami perlambatan.

Kalau perekonomian AS dan China melambat, tentu ada dampaknya pada perekonomian Indonesia, karena kedua negara itu merupakan tujuan ekspor utama Indonesia, sehingga akan berdampak pada penurunan ekspor dan penurunan neraca perdagangan. Kondisi itu yang akan kita hadapi di tahun 2023, dan berpotensi untuk juga terjadi pada tahun 2024.

Dampak tersebut sudah terasa di beberapa provinsi yang mengandalkan sektor komoditas dimana harga komoditas turun cukup signifikan dibandingkan tahun 2022, baik CPO, batubara, dll.

Ketiga, faktor geopolitik, yang sulit diprediksi karena tidak ada ukuran atau time frame-nya namun memberikan volatilitas yang sangat besar. Setelah terjadi perang Rusia-Ukraina, kita juga harus menghadapi dampak dari perang Israel-Palestina, dimana harga minyak mengalami kenaikan. Ketika harga minyak naik melampaui harga batubara dan CPO, tentu akan membatasi  revenue pemerintah, sementara belanja atau spending untuk subsidi minyak akan bertambah. Ini merupkan tantangan ke depan yang sulit diprediski.

Keempat, dampak dari krisis iklim. Dalam beberapa bulan terakhir kita menghadapi situasi yang cukup komplek, yaitu menurunnya produktivitas pangan terutama beras. Kondisi ini dihadapi oleh banyak negara terutama negara-negara produsen beras yang  biasa kita impor, seperti Thailand, Vietnam, dan India. Karena mereka membatasi ekspor,  tentu  akan memberikan tekanan pada harga beras di dalam negeri. Kalau kondisi itu terjadi terus menerus tentu sulit bagi kita untuk mengontrol harga beras, yang kemudian bisa berdampak pada meningkatnya angka inflasi.

Ini baru satu sisi, bagaimana kalau kemudian ada dampak iklim  lainnya, seperti banjir atau bencana alam,  yang  kemudian berdampak pula pada kualitas aset perbankan.

Terkait kondisi perbankan nasional saat ini, bahwa pertumbuhan kredit sekarang melandai ke 9,06%, DPK mengalami pertumbuhan terendah dalam enam terakhir, hanya 6,24%, dengan LDR sebesar 83,37%.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi dimana likuiditas relatif akan mengetat. Juga kemungkinan  bank sentral melakukan intervensi pada nilai tukar rupiah sehingga penarikan likuiditas akan meningkat. Ke depan, perlu mitigasi potensi pertumbuhan kredit dan kualitas aset, juga   likuiditas. ***