Forum
Komunikasi Direktur Kepatuham Perbankan (FKDKP) bekerja sama dengan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) dan Praktisi Perbankan telah menyelenggarakan webinar dengan tema: “Membangun Resiliensi
Perbankan dalam Menghadapi Tantangan di Tahun 2023”, tanggal 12 Desember 2022.
Webinar ini menampilkan narasumber: Ibu
Dian Ayu Astina (Head Makro Ekonomi and Financial Riset Bank Mandiri, mewakili
Bapak Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri); Bapak Setiyo Wibowo
(Direktur Risiko Bank BTN); Ibu Lani Darmawan (Presiden Direktur Bank CIMB
Niaga); Bapak Ade Cahyo Nugroho (Direktur Keuangan dan Strategi Bank BSI); bertindak sebagai moderator Ibu
Aviliani (Komisaris Utama Independen Allo Bank).
Acara dibuka oleh Ketua Umum FKDKP, Ibu Fransiska
Oei, yang
menegaskan pentingnya webinar kali
ini guna mendapatkan pandangan dari para narasumber mengenai kondisi
perekonomian di tahun 2023 berikut tantangan yang dihadapi serta strategi dalam
menghadapi tantangan tersebut.
“Kita
akan mendengarkan penyampaian dari Bapak Dian Ediana Rae mengenai beberapa isu yang perlu menjadi perhatian kita
bersama, serta kebijakan-kebijakan OJK yang akan dicanangkan dan juga harapan
OJK kepada industri perbankan,” tegas Fransiska. Dari webinar ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi
di tahun 2023 sebagai referensi dalam penyusunan strategi dan rencana kerja.
Keynote
Speech disampaikan oleh Bapak Dian Ediana Rae,
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
Beliau
mengawali presentasi dengan menyampaikan overview kinerja perbankan nasional pada posisi
Oktober 2022 yang relatif stabil di tengah tekanan volatilitas eksternal dengan
risiko kredit yang terkendali. Hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa indikator
utama seperti pertumbuhan kredit, DPK dan NPL yang cukup baik.
Begitu
pula intermediasi perbankan relatif baik dengan LDR sebesar 78 - 92%, AL/NCD
menguat ke level 130,17% dan AL/DPK
berada di level 29,46%, jauh di atas threshold.
Demikian juga rasio keuangan lainnya masih memadai, sehingga dapat disimpulkan
bahwa risiko yang dihadapi perbankan masih manageable
di tengah kenaikan suku bunga yang berpotensi menaikkan risiko kredit serta
tekanan pada likuiditas.
Terkait
struktur industri perbankan, menurut beliau, masih perlu penguatan, karena masih didominasi oleh populasi bank dengan market share dan skala usaha yang
relatif kecil. Disparitas yang masih sangat lebar tersebut mendistorsi
efektivitas transmisi kebijakan, pengaturan dan tindakan pengawasan oleh OJK.
Dalam
rangka mempercepat transformasi digital perbankan nasional, OJK sebagai
regulator terus berkomitmen untuk mendorong transformasi tersebut dengan menyiapkan dasar hukum berupa roadmap
Pengembangan Perbankan Indonesia, cetak biru transformasi digital perbankan,
kerangka keamanan cyber bank, serta
revisi POJK yang sudah kurang relevan.
OJK
juga melakukan perubahan dalam hal pengaturan dari semula role based menjadi principal based
yang diharapkan mampu memberi ruang gerak dan inovasi bagi perbankan.
Juga
disampaikan mengenai beberapa isu strategis yang menjadi tantangan perbankan ke
depan, mulai dari respon kebijakan pasca pandemi, VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik dan tantangan
global; volatilitas harga komoditas dan energi; ketidakpastian global yang akan
membawa efek pada perekonomian seperti kenaikan inflasi dan kenaikan suku bunga,
perlambatan ekonomi atau kenaikan harga energi, dll.
Juga
menyangkut percepatan digitalisasi, emerging
technology, perkembangan metaforce
crypto aset dan teknologi-teknologi baru, menjadi tantangan bagi perbankan
terkait kesiapan sumber daya manusia, proses dan teknologi dalam mengelola
resiko tersebut.
Perubahan
iklim telah menjadi perhatian utama dunia sehingga regulator dituntut untuk
merespon isu tersebut dengan kebijakan
yang tepat, dimana OJK akan melakukan
reformasi pada aspek pengaturan, perizinan dan pengawasan sektor perbankan,
yang didukung oleh empat pilar yaitu people,
process, teknologi, serta cooperation dan collaboration.
Terkait
perbankan, OJK akan fokus pada penguatan organisasi dan SDM serta pengawasan; penguatan pengawasan dan perizinan yang
terintegrasi; pemenuhan batas minimum modal inti bank; penguatan dan konsolidasi bank bagi bank umum konvensional dan bank umum syariah
khususnya BPD dan BPR/BPRS; dan kebijakan
normalisasi pasca berakhirnya stimulus covid.
Menurut
beliau, beberapa berita negatif seperti potensi terjadinya resesi dan berbagai dinamika
global patut menjadi perhatian. Dari sisi global, masih ada tekan inflasi yang direspon
oleh kenaikan suku bunga global yang cukup tajam, yang akhirnya memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan
kemungkinan resesi di beberapa negara.
Untuk
Indonesia, potensi terjadinya resesi relatif kecil, mungkin hanya perlambatan
ekonomi. Konsekuensinya, harga komoditas tidak akan setinggi tahun ini. Namun akan
ada positif dan negatifnya bagi perekonomian Indonesia. Seperti pada tahun ini
(2022) kita diuntungkan oleh commodity
income yang cukup tinggi dimana trade
surplus kita terbesar sepanjang sejarah. Mungkin tahun depan ada penurunan trade surplus, namun kita berharap neraca perdagangan akan tetap
surplus karena penurunan harga komoditas tidak akan terlalu tajam.
Risiko
dari segi geopolitik, perang Rusia - Ukraina belum ada tanda-tanda berakhir, masih ada potensi konflik Cina - Taiwan, dan beberapa risiko geopolitik di berbagai negara.
Dari
sisi domestik, beberapa risiko sudah terjadi seperti kenaikan inflasi akibat
harga BBM naik pada September 2022, yang direspon dengan menaikkan suku bunga dan normalisasi
kebijakan setelah pandemi.
Bank
Indonesia (BI) telah menaikkan rasio giro wajib minimum dan juga suku bunga,
dan dari sisi fiskal pemerintah akan
melakukan normalisasi dan konsolidasi sehingga defisit fiskal terhadap PDB akan
kembali di bawah 3%.
Implikasinya
pada perbankan adalah potensi menurunnya
likuiditas, terlebih dengan pulihnya
kegiatan ekonomi dan pertumbuhan kredit yang cukup signifikan sehingga likuiditas
agak ketat.
Sejauh
ini likuiditas perbankan masih cukup, namun harus diperhatikan terutama dari
sisi valas. Tajamnya kenaikan kredit valas menjadikan likuiditas valas agak
ketat.
Kenaikan
suku bunga global yang tajam menyebabkan
kekhawatiran terjadinya resensi di beberapa negara. Pada World Economic
Outlook IMF bulan Oktober 2022, beberapa negara sangat berisiko mengalami resesi,
terutama di Eropa seperti Italia, Jerman, dan Swedia. Sementara untuk negara lain
terutama emerging Asia seperti Vietnam,
India, dan Cina termasuk Indonesia, diperkirakan pertumbuhannya masih sangat baik.
Mungkin
risiko yang harus kita monitor adalah pasar keuangan, karena nilai tukar rupiah
mengalami depresiasi sebesar 9%, cukup signifikan, namun kalau dibandingkan
dengan negara lain kita masih berada di bawah. Depresiasi kita tidak separah
negara-negara lain, namun kalau ini dibiarkan akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi yang masih
sangat tergantung pada impor dimana perlambatan impor akan berpengaruh pada
pertumbuhan ekonomi.
Perlu
identifikasi beberapa dampak dari perlambatan ekonomi yang berpotensi pada penurunan
trade surplus, penurunan investasi
dan curren account yang saat ini
positif bisa kembali defisit, capital
outflow, depresiasi rupiah, serta pengetatan likuiditas terutama valas.
Kondisi
itu tentu berdampak pada sektor perbankan. Kita akan menghadapi kondisi
likuiditas yang mungkin akan lebih baik dengan lingkungan suku bunga yang cenderung lebih tinggi. Namun kita
lihat perekonomian Indonesia sampai saat ini masih sangat resilient, akselerasi masih cukup solid. Pada kuartal ketiga 2022 ekonomi
kita tumbuh 5,7%, dimana driver-nya masih
pada trade dan konsumsi. Investasi juga mulai pulih pada
berbagai sektor unggulan.
Perkiraan
ekonomi kita di tahun 2023 ada sedikit
perlambatan ke 5%, untuk 2024 mungkin masih konservatif karena pemilu, dan akan
sangat tergantung pada suasana politik.
Dari
sisi perbankan, terutama likuiditas valas, karena trading valas naik cukup tajam, sementara deposit relatif flate. Padahal angka trade
surplus tinggi, yang tidak
sertamerta terefleksi pada angka di perbankan, karena mungkin ada ekspor yang
tidak masuk ke sistem perbankan domestik.
Intinya,
secara umum tahun 2023 masih optimis, perlambatan mungkin terjadi tapi tidak
akan dalam. Memang kita menghadapi potensi resesi namun ada potensi perbaikan.
Kita harus memonitor terus perkembangan ekonomi
global dan melihat potensi perubahan
sentimennya, perubahan kebijakan moneter secara global yang akan sangat berpengaruh positif yang justru bisa membalikkan keadaan
perekonomian tahun depan menjadi lebih baik.
Beliau
mengawali presentasi dengan menjelaskan dua parameter utama bagi suatu korporasi untuk bisa sustain
dalam jangka yang lama, yaitu pertumbuhan bisnis dan sustainability
dalam jangka panjang. Hal itu yang
dilakukan di Bank BTN.
Dalam
menghadapi volatilitas market dan perkembangan
global, pihaknya banyak melakukan transformasi dan beradaptasi dengan
perubahan. Meskipun bisnis utama BTN di bidang perumahan tapi tidak hanya tergantung
pada perumahan. Potensi bisnis perumahan di Indonesia sangat besar tapi
pertumbuhannya tidak terlalu tinggi. Pertambahan kebutuhan rumah sekitar 700
ribu sementara kapasitas hanya 300 ribu
per tahun.
Indonesia
salah satu negara yang rasio perumahan terhadap GDP paling rendah di Asean, literasi
masyarakat mengenai perumahan juga rendah. Di tahun 2024 pemerintah akan menaikkan
rasio perumahan terhadap PDB menjadi 4%, dimana jumlah rumah tangga atau
keluarga yang memiliki rumah layak meningkat menjadi 70% dari 56,75%. Untuk itu
pemerintah menargetkan bantuan untuk perumahan sampai 2024 sebanyak 900 ribu rumah baru, juga BP Tapera menargetkan 500 ribu rumah baru.
Tahun
depan (2023) mungkin potensi suku bunga meningkat dan kredit mungkin lebih soft dibandingkan tahun 2021
dan 2020. Tapi masih sangat baik terutama beberapa kebijakan dari regulator
terkait skema yang akan dikembalikan ke
skema awal, dimana ada perpanjangan secara terbatas untuk segmen, daerah, maupun
sektor tertentu.
Akan
ada beberapa perubahan di skema KPR bersubsidi yang dulunya 20 tahun menjadi 10 tahun. Kita berharap dengan beban pemerintah
yang sama, jumlah orang yang membeli rumah lebih meningkat dan rasio GDP terhadap
perumahan juga meningkatkan. Disamping itu juga ada beberapa produk baru supaya
orang bisa membeli rumah lebih dini melalui
skema-skema yang lebih cocok.
BTN
juga mulai menyusun strategi untuk membangun bisnis baru di luar perumahan. BTN
akan memperkuat struktur permodalan dan
efisiensi cost of fund. BTN mulai membiayai transportasi yang ramah
lingkungan, kawasan perumahan yang berwawasan lingkungan, sebagai bagian dari edukasi
yang lakukan kepada mitra dalam membangun kawasan perumahan yang berwawasan
lingkungan, termasuk juga di sisi konsumennya.
Terkait
digitalisasi, dilakukan secara embedded dalam business process atau dalam core
bisnis BTN. Dalam mendesain digital platform
terkait industri perumahan tentunya dilihat siklus mulai dari buying,
living, renting, selling, dll. Dan itu tidak harus dibuat
sendiri, tapi dilakukan partnership dengan beberapa technology company yang memiliki core yang sama dengan BTN. Ada juga sharing bisnis dengan beberapa fintech.
Digitalisasi tidak hanya di properti tapi juga di transaction banking, sejalan dengan meningkatnya literasi nasabah mengenai
transaction banking ini.
Beliau
mengawali dengan menjelaskan secara singkat perjalanan merger Bank Syariah
Indonesia (BSI) sekitar dua tahun lalu, yang bertujuan untuk membangun kekuatan
perbankan khususnya dalam menghadapi tantangan di tahun 2023.
Menurutnya,
proses merger ini menjadi lesson learn
tersendiri dalam mewujudkan sebuah bank yang lebih kuat secara pundamental. Indonesia
sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, penetrasi bank syariahnya baru
6,8%, jauh di bawah Malaysia (30,8%) atau Qatar yang juga mendekati 30%. Padahal
Malaysia 13 tahun lalu market share-nya
sekitar 7%.
Melihat
perjalanan tetangga kita, mengapa kita tidak bisa, karena potensi kita lebih
besar? Akhirnya sampai pada kesimpulan, yaitu terkait skala, dimana bank
syariah yang ada saat itu tidak ada yang memiliki skala yang cukup, sehingga
produktivitasnya juga tertinggal jauh. Atas dasar itu pemerintah berinisiatif
mendorong proses merger di tahun 2021, sehingga punya skala, yang membuat
pertama kali ada bank syariah yang duduk di top
ten bank di Indonesia, dengan lebih
dari 1.000 cabang.
Alhamdulillah merger ini memberikan pengaruh
pada kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum merger. Dari sisi profitability, pertama kali mencapai
level ROE di angka 17,44%, dimana sebelumnya
ketiga bank itu tidak pernah mencapai ROE lebih dari 12-13%. Jadi, dalam dua
tahun ROE-nya sudah meningkat. ROA juga
begitu, setelah merger memberikan dampak yang signifikan dimana dalam dua tahun
berturut-turut growth 40% per tahun. Dari
sisi kualitas aset sangat jelas, juga dari sisi kesehatan.
Dulu
karena skalanya kecil, cost of fund-nya
tinggi, tidak punya daya tawar kepada nasabah. Tapi dengan memiliki 1.200
jaringan, bisa lebih optimal sehingga cost
of fund, cost to income, BOPO, menunjukkan progres yang sangat baik. Sekarang kita yakin bahwa bisnis
perbankan syariah merupakan sesuatu yang bisa kita operate dengan baik di Indonesia, bahwa konsep bank syariah bisa
bekerja baik di Indonesia.
Setelah memiliki skala, kami mulai memikirkan siapa sebenarnya
target market perbankan syariah di Indonesia. Dari riset yang dilakukan bahwa segmen
kita universal, yang mau ke bank syariah selama layanan dan harganya sama dengan bank terbaik di Indonesia.
Nasabah mau ke bank syariah asal
harganya, mobile banking-nya,
layanannya sama baiknya dengan bank terbaik di Indonesia. Intinya kita harus
menyadari bahwa masyarakat muslim Indonesia meskipun mereka punya preferensi ke
bank syariah, belum tentu ke bank syariah bila cicilan bulanannya lebih mahal.
Dari
hasil riset itu BSI menargetkan kira-kira 45% dari nasabah individual jadi
target market. Jadi, tidak lagi asal syariah tapi juga mengutamakan mudah dan
murah. Karena itu langkah pertama yang dilakukan yaitu menurunkan cost of fund, agar bisa menawarkan
kredit atau pembiayaan yang murah.
BSI
mulai focus pada segmen payroll untuk pegawai negeri dan pegawai BUMN, yang
ternyata cukup surprise, dimana payroll tumbuh 50%. BSI tidak lagi menggunakan
pendekatan “kalau di syariah tidak riba,
dll”. Penekanannya diubah bahwa : bank syariah bisa sama baiknya, sama murahnya,
sama cepatnya dengan bank konvensional. Tag
line-nya: sahabat sosial, finansial, dan spiritual. Ke depan BSI punya
mimpi menjadi bank yang sangat kuat di nasabah individusl karena 45% penduduk
Indonesia punya preferensi syariah.
Kalau
kita lihat digitalisasi selama masa pandemi, terakselerasi dengan signifikan,
karena meski ada lockdown tapi kehidupan sehari-hari tidak pernah berhenti. Ini yang membuat digitalisasi
termasuk di perbankan, mengalami kenaikan cukup signifikan, yang itu manfaatnya dirasakan kedua
belah pihak, baik masyarakat atau nasabah
maupun sisi perbankan.
CIMB
Niaga beruntung karena sudah berinvestasi di digital jauh sebelum pandemi. Tujuan
utamanya hanya customer experience
yang lebih baik, selain juga untuk efisiensi. Karena kalau bandingkan biaya per transaksi untuk digital transaction pasti lebih kecil
dibandingkan dengan transaksi manual misalkan lewat cabang atau ATM. Sewaktu pandemi,
nasabah CIMB Niaga juga tidak terlalu
terganggu, dan bisa tetap fokus untuk tumbuh walaupun lebih kecil dibandingkan
dengan target kalau tidak ada pandemi.
Kredit
CIMB Niaga tetap tumbuh selama pandemi, terutama di segmen retail seperti KPR, KKB
(kredit kepemilikan kendaraan bermotor), juga sektor UKM. Sampai saat ini performance secara keseluruhan masih
tetap bagus. Pada awal pandemi di tahun 2020, CIMB Niaga secara proaktif
menghubungi nasabah untuk menawarkan
bantuan restrukturisasi dengan berpatokan pada peraturan dari regulator. Total
ada sekitar 114.000 nasabah yang mengikuti program restrukturisasi covid dari
berbagai sektor. Kini jumlah nasabah yang masih dalam program restrukturisasi
sudah di bawah 3%.
Pada
saat itu juga secara proaktif memasyarakatkan transaksi digital sebagai
alternatif di saat mobilitas masyarakat terganggu. CIMB Niaga juga memberikan stand by assistance sehingga The Asian
Bankers memberikan apresiasi sebagai The
Most Bank Helpful During Covid 19 in Indonesia and 10th in Asia
Pacific. Di CIMB Niaga, pertumbuhan digital
transaction terutama dari sisi ritel meningkat tinggi. Baik dari nasabah
maupun perbankan, digitalisasi ini dampaknya sangat positif.
Terkait
tantangan terutama menyangkut digital fraud,
besar sekali. Alhamdulillah dari
tahun ke tahun kasusnya menurun sejalan dengan aktivitas customer education. Dari sisi fraud
awareness juga dilakukan secara berkala
ke seluruh channel yang ada : email,
SMS, WhatsApp, sosmed, web, dll. Secara sederhana bisa dikategorikan,
ada yang berasal dari social engineering
dan non
social engineering.
Salah
satu tanggung jawab sebagai penyelenggara layanan digital banking, kita harus mempunyai sistem yang mumpuni agar bisa
melindungi diri dari serangan siber yang tidak terlihat oleh mata. CIMB Niaga menerapkan
berlapis-lapis cyber security system
dan secara berkala melakukan assesment.
Blue print untuk cyber
security ini sangat krusial, harus lengkap dan up to date.
CIMB Niaga mempunyai twenty-four-hour
security operation center yang bertugas untuk monitor setiap detik adanya transaksi
atau potensi aktivitas yang membahayakan.
Untuk
melakukan itu semua maka organisasi juga harus di-setup dengan lengkap, juga tim untuk cyber strategy yang membuat roadmap,
blueprint, market research, dan harus update. Ada tim untuk SOP, tim assurance termasuk audit, penetration test, tim operasional dll. Untuk
menyelenggarakan digital transaction
memang tidak simpel, perusahaan harus
mampu mengalokasikan resource yang
cukup. ***